Jumat, 09 Mei 2014

Baju Couple Murah Terbaru

Kaos couple atau disebut juga sebagai T-shirt adalah jenis pakaian yang menutupi sebagian lengan, seluruh dada, bahu, dan perut. Kaus couple biasanya tidak memiliki kancing, kerah, ataupun saku. Pada umumnya, kaus couple berlengan pendek (melewati bahu hingga sepanjang siku) dan berleher bundar. Bahan yang umum digunakan untuk membuat kaus couple adalah katun atau poliester (atau gabungan keduanya).

Mode kaus couple meliputi mode untuk wanita dan pria, dan dapat dipakai semua golongan usia, termasuk bayi, remaja, ataupun orang dewasa. Kaus couple pada mulanya digunakan sebagai pakaian dalam. Sekarang kaus couple tidak lagi hanya digunakan sebagai pakaian dalam tetapi juga sebagai pakaian sehari-hari.

Daftar isi

    1 Sejarah
    2 Awal kepopuleran
    3 Menjadi tren anak muda
    4 Dijadikan identitas pemakainya
    5 Kaos couple di Indonesia
    6 Pranala luar

Sejarah

T- Shirt atau kaos couple pada awalnya digunakan sebagai pakaian dalam tentara Inggris dan Amerika pada abad 19 sampai awal abad 20. Asal muasal nama inggrisnya, T-shirt, tidak diketahui secara pasti. Teori yang paling umum diterima adalah nama T-shirt berasal dari bentuknya yang menyerupai huruf "T", atau di karenakan pasukan militer sering menggunakan pakaian jenis ini sebagai "training shirt"
Kaos Wikimedia Bebaskan Pengetahuan

Masyarakat umum belum mengenal penggunakan kaos atau T-Shirt dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, para tentara yang menggunakan kaos couple tanpa desain ini pun hanya menggunakannya ketika udara panas atau aktivitas-aktivitas yang tidak menggunakan seragam. Ketika itu warna dan bentuknya (model) itu-itu melulu. Maksudnya, benda itu berwarna putih, dan belum ada variasi ukuran, kerah dan lingkar lengan
Awal kepopuleran

T-shirt alias kaos couple ini mulai dipopulerkan sewaktu dipakai oleh Marlon Brando pada tahun 1947, yaitu ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya Tenesse William di Broadway, AS. T-shirt berwarna abu-abu yang dikenakannya begitu pas dan lekat di tubuh Brando, serta sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. dan film Rebel Without A Cause (1995) yang dibintangi James Dean. Pada waktu itu penontong langsung berdecak kagum dan terpaku. Meski demikian, ada juga penonton yang protes, yang beranggapan bahwa pemakaian kaos couple tersebut termasuk kurang ajar dan pemberontakan. Tak pelak, muncullah polemik seputar kaos couple.

Polemik yang terjadi yakni, sebagian kalangan menilai pemakaian kaos couple – undershirt – sebagai busana luar adalah tidak sopan dan tidak beretika. Namun di kalangan lainnya, terutama anak muda pasca pentas teater tahun 1947 itu, justru dilanda demam kaos couple, bahkan menganggap benda ini sebagai lambang kebebasan anak muda. Dan, bagi anak muda itu, kaos couple bukan semata-mada suatu mode atau tren, melainkan merupakan bagian dari keseharian mereka.

Polemik tersebut selanjutnya justru menaikkan publisitas dan popularitas kaos couple dalam percaturan mode. Akibatnya pula, beberapa perusahaan konveksi mulai bersemangat memproduksi benda itu, walaupun semula mereka meragukan prospek bisnis kaos couple. Mereka mengembangkan kaos couple dengan pelbagai bentuk dan warna serta memproduksinya secara besar-besaran. Citra kaos couple semakin menanjak lagi manakala Marlon Brando sendiri – dengan berkaos couple yang dipadu dengan celana jins dan jaket kulit – menjadi bintang iklan produk tersebut.

Mungkin, dikarenakan oleh maraknya polemik dan mewabahnya demam kaos couple di kalangan masyarakat, pada tahun 1961 sebuah organisasi yang menamakan dirinya “Underwear Institute” (Lembaga Baju Dalam) menuntut agar kaos couple diakui sebagai baju sopan seperti halnya baju-baju lainnya. Mereka mengatakan, kaos couple juga merupakan karya busana yang telah menjadi bagian budaya mode.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar