Kaos couple atau disebut juga sebagai T-shirt adalah jenis
pakaian yang menutupi sebagian lengan, seluruh dada, bahu, dan perut. Kaus couple
biasanya tidak memiliki kancing, kerah, ataupun saku. Pada umumnya, kaus couple
berlengan pendek (melewati bahu hingga sepanjang siku) dan berleher bundar.
Bahan yang umum digunakan untuk membuat kaus couple adalah katun atau poliester
(atau gabungan keduanya).
Mode kaus couple meliputi mode untuk wanita dan pria, dan
dapat dipakai semua golongan usia, termasuk bayi, remaja, ataupun orang dewasa.
Kaus couple pada mulanya digunakan sebagai pakaian dalam. Sekarang kaus couple
tidak lagi hanya digunakan sebagai pakaian dalam tetapi juga sebagai pakaian
sehari-hari.
Daftar isi
1 Sejarah
2 Awal kepopuleran
3 Menjadi tren
anak muda
4 Dijadikan
identitas pemakainya
5 Kaos couple di
Indonesia
6 Pranala luar
Sejarah
T- Shirt atau kaos couple pada awalnya digunakan sebagai
pakaian dalam tentara Inggris dan Amerika pada abad 19 sampai awal abad 20.
Asal muasal nama inggrisnya, T-shirt, tidak diketahui secara pasti. Teori yang
paling umum diterima adalah nama T-shirt berasal dari bentuknya yang menyerupai
huruf "T", atau di karenakan pasukan militer sering menggunakan
pakaian jenis ini sebagai "training shirt"
Kaos Wikimedia Bebaskan Pengetahuan
Masyarakat umum belum mengenal penggunakan kaos atau T-Shirt
dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, para tentara yang menggunakan kaos couple
tanpa desain ini pun hanya menggunakannya ketika udara panas atau
aktivitas-aktivitas yang tidak menggunakan seragam. Ketika itu warna dan
bentuknya (model) itu-itu melulu. Maksudnya, benda itu berwarna putih, dan
belum ada variasi ukuran, kerah dan lingkar lengan
Awal kepopuleran
T-shirt alias kaos couple ini mulai dipopulerkan sewaktu
dipakai oleh Marlon Brando pada tahun 1947, yaitu ketika ia memerankan tokoh
Stanley Kowalsky dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya
Tenesse William di Broadway, AS. T-shirt berwarna abu-abu yang dikenakannya
begitu pas dan lekat di tubuh Brando, serta sesuai dengan karakter tokoh yang
diperankannya. dan film Rebel Without A Cause (1995) yang dibintangi James
Dean. Pada waktu itu penontong langsung berdecak kagum dan terpaku. Meski
demikian, ada juga penonton yang protes, yang beranggapan bahwa pemakaian kaos couple
tersebut termasuk kurang ajar dan pemberontakan. Tak pelak, muncullah polemik
seputar kaos couple.
Polemik yang terjadi yakni, sebagian kalangan menilai
pemakaian kaos couple – undershirt – sebagai busana luar adalah tidak sopan dan
tidak beretika. Namun di kalangan lainnya, terutama anak muda pasca pentas
teater tahun 1947 itu, justru dilanda demam kaos couple, bahkan menganggap
benda ini sebagai lambang kebebasan anak muda. Dan, bagi anak muda itu, kaos couple
bukan semata-mada suatu mode atau tren, melainkan merupakan bagian dari
keseharian mereka.
Polemik tersebut selanjutnya justru menaikkan publisitas dan
popularitas kaos couple dalam percaturan mode. Akibatnya pula, beberapa
perusahaan konveksi mulai bersemangat memproduksi benda itu, walaupun semula
mereka meragukan prospek bisnis kaos couple. Mereka mengembangkan kaos couple
dengan pelbagai bentuk dan warna serta memproduksinya secara besar-besaran.
Citra kaos couple semakin menanjak lagi manakala Marlon Brando sendiri – dengan
berkaos couple yang dipadu dengan celana jins dan jaket kulit – menjadi bintang
iklan produk tersebut.
Mungkin, dikarenakan oleh maraknya polemik dan mewabahnya
demam kaos couple di kalangan masyarakat, pada tahun 1961 sebuah organisasi
yang menamakan dirinya “Underwear Institute” (Lembaga Baju Dalam) menuntut agar
kaos couple diakui sebagai baju sopan seperti halnya baju-baju lainnya. Mereka
mengatakan, kaos couple juga merupakan karya busana yang telah menjadi bagian
budaya mode.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar